.
0

menjadi cover sejarah kehidupan

Saya mungkin belum cukup tua untuk mengatakan ini, saya pun belum cukup pantas untuk melontarkan ungkapan ini pada anda karena saya belum menjadi orang sukses yang diagungkan. Yang jelas saya cukup berani mengatakan ini pada anda :
masa remaja bukan untuk dinikmati,
tapi untuk di hadapi.....
saat kau berani untuk mengorbankan masa remajamu,
kaki anda telah melangkah jauh melewati orang lain”
(undzur maa qaala walaa tandzur man qaala)
Lihatlah pada apa yang dibicarakan jangan melihat siapa yang berbicara. Hari ini hanya keberania yang mendorong saya untuk berani menuliskan catatan ini untuk anda. Mungkin saya masih remaja dan belum sukses sehingga kurang berkenan untuk menyampaikan hal ini. Tapi yang jelas saya belajar banyak dari sesuatu yang sederhana, atau lebih tepatnya peristiwa kecil mengajarkan saya untuk bersiaga menghadapi peristiwa besar.
Setahun yang lalu tepatnya kelas 1 SMA. Saya terkenal dengan murid yang aktif dalam organisasi bahkan terlalu aktif menurut pandangan beberapa orang. Banyak hal yang saya korbnankan, dari mulai waktu istirahat, uang, kondisi badan yang dipaksakan.
Keaktifan itulah yang membuat saya sangat sibuk hingga tak ada waktu untuk merasakan kebahagian yang orang lain rasakan. Kebersaman bersama teman sebaya terengut begitu saja karena kefokusanku pada organisasi yang ku tekuni.

semuanya berlalu begitu cepat samapi tibalah waktunya aku kelas 2 SMA. Menjadi seorang ketua umum yang memimpin organisasi sekolah bukanlah hal yang biasa tapi hanya sedikit orang saja yang dapat merasakan posisi tersebut.
Semuanya karena pengorbananku untuk organisasi saat tahun lalu membuatku dianggap mempunyai kelebihan dari mereka, padahal sebenarnya yang membedakan hanyalah pengalaman saja. Yaa… hanya pengalaman yang membuatku meloncat jauh kedepan mendahului orang lain.
Akhirnya pengorbanan itu memberikan hasil yang sesuai dengan perjuangan. Ternyata harus ku korbankan masa remaja ini untuk kesuksesanku kelak.
Memang sulitnya luar biasa ketika kita mengorbankan masa remaja yang penuh dengan kebahagiaan, kemewahan, canda ria, poya-poya dan lain sebagainya. Tapi itu hanya sesaat kawan, yang kita cara dalam hidup itu bukan apa yang kita dapat di umur belasan tahu atau dua puluh tahun tapi jauh bertahun-tahun kedepan hasilnya akan nampak.
Tulisan ini untuk para remaja yang sedang tidur nyenyak dalam mahligai sutra yang menggiurkan. Mari melangkah bersama kawan… tuhan teramat adil, jika kau hanya tertidur maka cepat-cepatlah riwayatmu habis dengan sia sia. Tapi jika kau berusaha maka riwayat itu datang ketika engkau sudah menyelesaikan semuanya.
Mari beanjak kawan, terlalu lama kita diam sedangkan dunia membutuhkan kita. Yaaa…. Kita bukan benalu yang tersingkirkan oleh buku sejarah kehidupan. Justru kita yang akan menjadi cover sejarah kehidupan.
0

"love you mom"

Rina Gusminar
dunia yang fana ini berani ku jejali,
apapun resiko dan cobaannya
tapi betapa sulit ku ucapkan kata ini
padamu...
butuh keberanian dan aku tak lebih dari seorang pengecut.
kau tahu apa yang ingin kukatakan??

"SELAMAT HARI IBU, LOVE YOU MOM" -forever-
0

saat kebenaran terasing

“Bumi itu memang berputar. Begitupun angka yang berawal dari nol dan akan berakhir menjadi nol”

Percaya atau tidak kehidupan manusia itu berawal dari ketiadaan dan akan berakhir pada ketiadaan pula. Orang agamis bilang tubuh  kita yang berasal dari tanah akan kembali pada tanah dan jiwa kita berasal dari tuhan dan akan kembali kepada tuhan.

Yaa,,,, itu real dan akan terjadi kawan.

Sebuah kerajaan yang pada awalnya tidak terkenal kemudian lambat lain terkenal dan pada akhirnya nama kerajaan itu tidak lagi ada dan tak lagi diperbincangkan. Itu adalah contoh kehidupan yang fana ini kawan.
Bahkan hari ini kita benar-benar mendekjati waktu untuk kembali pada tuhan. Mengapa tidak, dahulu kala kebanaran itu teramat asing saat nabi menyampaikan kebenaran pada bangsa arab jahiliyah hingga pada akhirnya kebenarn Berjaya dan sampai di puncak kejayaan. Dan hari ini kebanaran kembali menjadi asing kawan.

Guruku bilang “inilah saatnya kebenaran menjadi asing dimata kita”

Jika kita hadir dalam undangan pernikahan yang didalamnya ada jamuan makan malam. Seandainya sat kita akan makan tiba-tiba ada seseorang dari kita maju kedepan dan kemudian meminta para hadiri nsama-sama membaca doa “bapak-ibu sebelum makan mari kita bersyukur pada tuhan dengan membaca doa” . Pasti dalam benak kita “nih orang gak ada kerjaan banget yaa”.

Yaa… itulah saat dimana kebenaran amatlah asing bagi diri kita yang terisolasi dari kebenaran itu sendiri, entah mengapa.

Maka kata nabi “islam itu muncul dari keasingan dan akan kembali diasingkan”. Soo… tunggulah saat dimana manusia akan kembali pada ketiadaan.
0

28 juni 2011

"bbooosss..." seru seseorang beriringan pintu kayu itu mengusik kesendirianku yang terlelap tidur.
"iyyaaa,, apaah?" erangku yang masih tergeletak di kasur (biasa pangedulan. hahaha)
"urang tadi cap tiga jari" rintihnya (ooh ya namanya fawaz saya lupa.hehe)
"maksud??"
"urang kaluar brad.."
hah?? suer gak percaya benget hari itu... sekitar berapa menit aku cuma diam tanpa sahutan
"hampuranya boss.." lanjutnya yanhg mulai terbawa keadaan
"aaahh bhong "
dengan ketidakpercayaan langkahku keluar dari asrama menuju SEKRETARIAT IPM


"boss urang moal waka balik saacan urang jadi lebih baik" tiba fawaz berusaha meyakinkanku  yang dari tadi tak percaya.
"beneer wazz."
"uraang janji boss ka maneh"
dengan setengah hati ku ayunkan tanganku untuk menggam tangannya dengan beberapa ucapan ikrar kami...


hari itu terakhir ku menatap matanya.... tak ku kira PKPM adalah perpisahan buat kami. padahal saat pelatihan itu dia tampak antusias dengan nada tingginya "urang dek jadi KABID BKW boss"... hahaha
sialnya itu cuma menjadi kata terakhir buat kami.
aaarrrghhh.....
 I need evidence from your say waz................... 
.................................................................................................................................................................
0

hanya mimpi

Sel,20/12/2012
jk nafas brhenti hari ini, jk nadi mulai trputus dan kaku, maka dgup jantung mulai trdiam,
sang hitam yg tak ku kenali wajah.a brdri menantang d hdapanku, aku terperanjat dalam nestapa dosa yg membising, 
diam
kaku
tegang bukan main, saat koridor wajah.a membungkuk mengintai dadaku,
aaah, smw.a mimpi yg menakutkan


y alloh..
izinkan aku mendekat dan duduk d smpingmu.. smw ini sungguh melelahkan,
tp sblm wkt itt tiba, aku ingin brbagi ttg hdup pd mrk,
ya, mrka si adik kcil yg mengsi hari2ku,
tuhan impin trbsarku kini melihat mrk menggapai cita2.a,

0

my little brother

banyak banget kegiatanku di sekolah dari bangun subuh sampai tidur lagi sekitar jam 23.00 dan semuanya sudah menjadi rutinitas hari-hariku. belum lagi konflik dan problema organisasi yang senantiasa selalu memberi tempat dalam benakku untuk di pikirkan. semuanya membuat penat yang amat sulit untuk diatasi.

namun hari ini aku punya mereka,
yaa... adik-adikku yang selalu tersnyum polos tanpa menginginkan balasan apapun dariku. sepulang dari rapat ataau sekolah yang selalu membuatku stress, mereka mengobatinya dengan senyum polos mereka yang ditujukan padaku. canda tawa dan kegembiraan yang yang aku dapatkan dari mereka seketika menghilangkan stress dan penat yang ku pikirkan. mereka seolah obat buat kehidupanku hari ini.

yaa allah, engkau begitu adil...
dibalik stress dabn pusingnya otakku memikirkan organisasi, lalu engkau memberikan penawar yang sangat mujarab hingga aku ikut tertawa bergembira. terimakasih tuhan.
ternyata di tempatkannya aku di kelas satu adalah bukti sayangmu padaku.... walaupun jauh dari teman sebaya (asramanya) tapi gak apa apa yang jelas hari ini semua ini adalah yang terbaik. I wont to keep smile for world :)
0

sesak ini sebuah penyesalan

tuhaannn,,, 
baru kusadari sehat itu nikmat, 
tapi kesadaranku tak lebih untuk waktu yang terlambat..


inginku mendekat padamu tuhan,, 
duduk di sampingmu, seksama menyaksikan hukum alam dunia....
dan ternyata itupun terlambat buatku..

yaahhh, penyesalan memang slalu datang di akhir cerita, saat semuanya sudah lalah untuk kembali terbangun. begitupun aku hari ini yang terlanjur jatuh sakit padahal keadaan menuntutku untuk tidak pernah sakit. entah apa yang harus aku lakukan, yang pasti aku ingin mendekatkan diri padamu tuhan. senantiasa menyebut dan mengingat asmamu sebagai obat dari segala penyakit.

tuhann,, sesak ini sebuah penyesalan yang kau ajarkan padaku. kondisi ini memebriku banyak pelajaran untuk bersyukur padamu tuhann....
0

berlutut pada takdir yang memuakkan

knp sekarang??
kenapa sekarang tuhann....
knp ini terjadi hari ini, why??
you dont like me god??
kill me now.... now.
bcz destiny is coward... in front of my face
ang you "time", you lazy with me....
yeaaahhh... i fed up you all.
Tuhhann…
Habiskah waktuku untuk memilih??

Hari ini semuanya benar-benar membuatku mati membeku. Tak pernah sedikitpun aku berpikir kalau dia pernah menyukaiku seperti aku menyukainya, hingga kebenaran dan kenyataan ini datang dengan sangat pahit dan perih mengatakan kalau waktuku habis untuk mendapatkan hati yang selama ini ku tunggu.

Takdir itu benar-benar membuatku sangat muakk, hingga aku harus hidup dengan kemunafikan. Kejujuranku yang hanya untuknya harus lenyap sekilas, hanya dengan sebuah keasalahanku.
Tuhann tak pernahkah kau takdirkanku untuk tersenyum??

ini semua membuatku benar-benar tersenyum,, tersenyum untuk membunuh sang takdir.keadaan ini membuatku jatuh hingga tak ada penopang…

kenapa tidak ada senyuman yang kau harapkan dariku tuhann?

hari ini aku terpaksa menelen kenyataan walaupun sudah ku memelas pada takdir. Memelas untuk memilih kebahagian tapi tak pernah terkabulkan, entah karena apa?? Jika alam dendam padaku, tolong jangan rengut kebahagian ini. Pliss aku membutuhkannya.,

dulu ketika takdir datang dengan sebuah kedilematisan antara organisasi dengan dia, sangat sulit buatku untuk memilihnya karena keduanya adalah adalah kendaraan masa depanku. Yaa keduanya membuatku harus memilih hingga akhirnya aku memilih dengan ribuan penyesalan sampai hari ini.

Dan sekarang takdir itu datang lagi dengan pilihan paling sulit dalam hidupku. Yaa..

Tapi kali ini aku benar-benar lelah untuk meninggalkannya dengan perasaannya untkku. Kenapa kamu datang saat ending cerita?? Inikah keadilan untukku yang tak pernah merasakan apa yang orang lain rasain??

Ini benar-benar kenyataan yang sulit ku terima. Aku ingin itu kembali, juga pilihan itu. Pilihan untuk memilihmu dan tidak lagi memilih yang lain.
Yahh,,, kali ini kau mengalahkanku.
0

why??? why do not you ever talk??

Tuhhannn..
Ada apa ini???
Riwayat sang tapa gemeliat lunglai
Bumi kelam meniru tuak sang bajingan
Nafas sang bohemian yang mendengkur lelah
Sang detektif holmes yang penuh dengan gambaran karakter manusia
Dia tetap terbengkalai depan Irene gadis yang dicintainya.
Begitupun benang meraih ini yang terpaut akan emosi
Keegoisan,
Balas dendam,
Akan cinta dan kasih sayang masing-masing.
Aarrrghgghhh lelah hidup ini terbingkai akar cinta
Ayooollahhh…. Bicara padaku
Tentang sakit itu…
Tentang rasa marah itu…
Tentang hidup itu…
Tentang benag mereh sebuah hubungan…
Bicaralah, ungkapkan pada mereka,
Dan pada takdir yang selalu senyum atas ulahnya yang bijaksana

Kamu ingin pahami hidup ini
Tapi kamu diam dan menuntut sebuah tingkah laku…
Tapi memahami bukan dari apa yang dikerjakan
Tapi yang di pikirkan sebagai landasan tingkah laku…

Diamana keadilan itu??
Tiadakah kurasakan??
Bahkan saat orang lain tersenyum menyindirku??

Ooohhh tidakk…
Senyum itu membuatku muak…
Niagamu salaurkan kepedihanku
Takdir itu inginku maki tiada dusta lagi
Sampai aku puas..
Puas mengalungkan bara api pada takdir

Pernahkah apa yang kurasakan juga kau rasakan??
Tuhhann
Inikah takdir sang organisator yang mengetahui kebenaran diakhir cerita.
Siallan.,

0

guru, si tukang pos kehidupan

Doktrin yang kerap kita dapatkan seolah tidak pernah lekang. Masih ingat shoe hok gie saat mengatakan jika

 “guru bukanlah dewa yang selalu benar”

Jadi siapa guru?? Haruskah ku ulangi kalau guru hanya sebagai tukang pos..
Rasanya kalian sudah lebih pintar untuk memutar memori pembahasan guru sebelumnya. Tapi ada sebuah fakta dan realita yang lagi-lagi entah kita sadari atau tidak tapi yang jelas guru buat pelajar hari ini masih seolah dewa yang tidak pernah salah dan kita pembantu yang selalu mengangguk saat apapun yang di perintah majikan.

Kita tidak bisa mengatakan tidak pada guru karena tukut, malu atau hal lain yang jelas membuat alur kritis kita terhambat.

Suatu ketika dalam pembelajaran sekolah. Waktu ini sang guru benar-benar membuatku jengkel dengan ulahnya yang seenaknya kepada teman kami yang jelas-jelas dia polos bahkan di kehidupan sehari-haripun dia selalu mendapat sindiran dengan berbagai sebutan yeng mencela dia sebagai seorang manusia pada umumnya. Ditambah pak guru ini.

System pembelajaran yang salah di cubit sehingga bukan main cubitannya membuat lubang baru di badan kami. Belum lagi tingkahnya yang tidak lepas mengejek salah anak-anak satu demi satu sehingga suasan kelas benar-benar tegang dan psikologi mental kami yang mulai drop alias hanya bisa mengangguk.

Sehabis pembelajarannya yaitu saat anak-anak istirahat, saya coba memulai pembahasan.

“bapak maaf… bukannya saya lancang.”
 (Ujarku pada sang guru yang cukup tua)

“ada apa emangnya??”
Sahutnya dengan mata yang cukup tajam memandangku.

“bisakah bapak sedikit lebih lembut kepada kami”
Pintaku yang mulai memelas karena sebuah pembelaan.

“kenapa?? Bukannya dari tadi kita sama-sama tertawa. Dan itu cukup meramaikan suasana”

“buat sebagian iya tertawa, tapi buat yang tertindas mana bisa tertawa pak. Mungkin bapak belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di kelas kami. Dari dulu sampai sekarang kami belum pernah dapat guru sperti bapak, jadi sekarang cukup membuat kami bengong. Jadi bisakan bapak sedikit lembut.”

“bukannya bagus kalau saya berbeda dari guru sebelumnya yang terlihat lemas dan kurang tegas. Kita ini pesantren dan harus tegas.”

“sangat bagus pak sebanarnya.. cuman kali ini objeknya gak sesuai pak! Seandainya bapak meresakan dalam posisi murid yang bapak tadi tekan mentalnya sedangkan bpak menuntut kami hafal pelajaran bapak. Jelas tidak akan terjadi karena kami harus menghapal dalam keadaan menegangkan apalagi jika salah kami mendapat hukuman lahir maupun batin.”
“kamu maunya apa….”
(tiba-tiba nada pak guru mulai naik dan membuat saya semakin gemetar, tapi apa boleh buat semuanya tanggung kulakukan.)

“sekali lagi maaf pak kalau menyinggung… saya Cuma menyalurkan aspirasi anaak-anak tentang kesan tadi ketika pembelajaran”

“iya… tapi kamu merasa sok jago dengan menasehati saya!!!”
(wah..wah..wah..keadaan mulai kacau ni.)

Ooh tidak bel masuk berbunyi dan anak-anak berangsur-angsur masuk ke kelas. Tapi keadaan belum berakhir sampai disitu dan harus ku selesaikan.

“bukan begitu pak.. sekali lagi saya benar-benar minta maaf kalau menyinggung. Kami Cuma ingin kita belajar nyaman baik dari bapak maupun kami. Ya mungkin saat sesi pertanyaan jarang ada orang yang tidak bisa menjawab karena suasna tidak tegang. Kayaknya itu ideal dan lebih enak pa.” ujarku yang mulai menenangkan suasana sehingga anak-anak mulai memperhatikan kami yang dari tadi tidak selesai berdialog.

“kamu ini mendikte saya… orang lain tidak ada yang pernah mengatakan itu kepada saya. Lancang kamu jadi anak.”  Jawab sang bapak dengan tangan yang menarik bajuku kemudian mendorongku ke dekat dinding sehingga posisi kami benar-benar kacau.

(waduh,, ngajakin berantem ni orang. Tapi tidak mungkin itu ku lakukan. Tapi ini kelewatan uijarku karena anak-anak hanya melihat bukannya membatu. Akhirnya ku usahakan melepaskan tanggannya dengan kelembutan sambil berkata.)

“bapaak.. sekali lagi saya minta maaf banget. Iya sudahlah kalau itu emang jawaban bapak. Saya mengalah Cuma mungkin ini sekedar pemberitahuan saja pak.”

“kamu ini… lancang jadi anak.” Masih dalam nada keras.

Saya tidak ingin berkata apapun kecuali maaf terakhir dari saya sambil meraih tangannya untuk mengajak salam.

Akhirnya saya mencoba keluar dan ternyata saat saya keluar pak guru tersebut mebicarakan saya depan anak-anak. Hari itu memang melelahkan buat saya yang genap 14 tahun. Siialll ujarku, bukannya menyelesaikan masalah tapi malah membuat sang guru mengejekku di belakang.

Fenomena dewa itu masih terjadi dalam rutinitas pelajar hari ini. Saat bajuku ditarik dan tubuhku di dorong mendekati dinding, tidak ada sama sekali yang melerai kami atau berusaha mengehentikan aksi sang guru tersebut. Image sang guru masih Nampak seseorang yang tidak mempunyai kesalahan sehingga kita sungkan melakukan kebaikan yang seharusnya tanpa takut atau malu sekalipun.

Okelah kalau guru masih kita jadikan dewa, tapi kenapa kita massih menganggapnya tukang pos yang membantu kita mendapatkan kebahagian?? Atau si pengantar jembatan agar kita sampai kesebrang??

Sepertinya, realita berbicara

“Guru adalah DEWA dengan pekerjaan TUKANG POS”

Sadar atau tidak itu realita yang terjadi di zaman hari ini.
Tapi saya buat saya.

“guru BUKANLAH DEWA tapi berusaha menjadi DEWA”